5 Tahun Menjadi Paperless, Simak Apa Yang Saya Lakukan

Berita Teknologi

5 Tahun lalu ada sebuah ide yang ingin saya wujudkan mumpung finansial sudah mumpuni karena ini ada hubungannya dengan gadget. Saya memutuskan untuk memulai paperless alias mengurangi penggunaan kertas karena menurut saya kadang kertas sering terbuang sia-sia.

Saat itu saya membeli Samsung Galaxy Tab A 8.0 yang dilengkapi S-pen karena itu adalah pilihan terbaik untuk membuat catatan digital. Inilah mengapa saya katakan bahwa paperless memang butuh dukungan finansial karena kalau kamu masih terbiasa menulis tetapi ingin beralih penuh mencatat digital, maka kamu butuh gadget yang memenuhinya.

source : fline Youtube Channel

Tetapi ngomong-ngomong, apa keuntungan paperless? bisa ramah lingkungan?

Keuntungan Paperless

No, ramah lingkungan adalah alasan kesekian beralih menjadi paperless. Bukan saya mengatakan bahwa paperless itu tidak berdampak ke lingkungan tetapi saya akan memberikan alasan keuntungan yang dampaknya terlihat ke diri sendiri dulu.

Berikut manfaat paperless yang saya rasakan dampaknya langsung.

Dokumen Bisa Diakses Dari Mana Saja

Kalau kamu mencatat dengan kertas maka otomatis kalo kertasnya lupa ya kamu tidak bisa mengaksesnya lagi kecuali mengambil hardcopy nya. Dengan paperless maka kamu bisa mengupload dokumen digital di cloud dan mengaksesnya dimana saja.

Lupa tablet atau laptopmu di rumah? tenang, tinggal cari penyewaan komputer terdekat dan download filenya dan semua masalah selesai. Saya akan sebutkan apa saja aplikasi yang dipakai sehingga kamu bisa bekerja dari mana saja tanpa takut kelupaan gadget.

Tidak gampang hilang/rusak

Kemungkinan kertas rusak atau hilang jauh lebih besar daripada dokumen digital hilang apalagi sudah diupload ke cloud. Laptop atau tablet rusak? tenang, kamu bisa ke jasa perbaikan untuk mengambil datanya yang disimpan di memori.

Dokumen nyelip? catatan kena air? atau robek sebagian? gak akan bisa dikembalikan ke bentuk semula. Sebenarnya virus komputer menjadi ancaman untuk dokumen digital. Selain itu peluang datanya diambil orang melalui hack juga lebih besar, tetapi percayalah tidak semua hacker ingin mengetahui isi laptopmu kecuali kamu pejabat penting, hehehe.

Mengurangi Space

Saya sudah menyiapkan diri untuk hidup minimalis suatu hari nanti dan cara pertama adalah dengan tidak menimbun kertas berlebihan untuk dokumentasi dan buku. Belakangan saya selalu memberikan buku catatan kantor yang biasa diberikan tahunan kepada orang lain karena saya ingin sepenuhnya memakai tablet untuk mencatat apapun.

Plus, eBook selalu menjadi pilihan utama saya kecuali memang hanya ada versi buku fisiknya. Bagian ini sangat berpengaruh karena sebagai pencinta buku, kadang-kadang lebih enak membaca buku fisik daripada eBook. Hal yang saya bisa yakinkan ketika tinggal di Belanda karena kebanyakan orang-orang membaca eBook daripada buku.


Lalu apa saja hal-hal yang biasanya saya lakukan dengan paperless? mungkin kamu bisa terinsipirasi dari aplikasi-aplikasi yang saya pakai di bawah ini.

Mencatat Digital

Saya bukan orang yang memiliki tulisan tangan bagus tetapi masih memilih untuk mencatat dengan tulisan tangan dan bukan keyboard. Oleh karena itu mau gak mau jika ingin beralih digital maka saya harus memakai tablet yang ada pennya agar tetap memakai tulisan tangan tetapi bisa diupload di cloud.

Tetapi jika kamu kebiasaan mencatat dengan keyboard juga oke-oke saja. Saya tidak akan membahas banyak aplikasi di luar sana yang bisa kamu gunakan untuk mencatat di cloud. Saya sudah mencoba beberapa aplikasi mencatat seperti Evernote, Google Docs, Goodnote, dan sebagainya. Tetapi hanya 1 yang saya terus pakai yaitu Microsoft One Note.

Kamu pasti tidak asing dengan nama depan aplikasi ini, ya benar kok, ini aplikasi buatan Microsoft. Enaknya aplikasi ini gratis (walaupun ada limit storage) dan tersedia di device apa saja. Management File nya juga sangat rapi dan mendukung tulis tangan digital alias kamu bisa corat coret jika ingin mencatat.

Singkronisasi antar device sangat gampang walaupun kekurangannya adalah hasil dari catatanmu ini memiliki ukuran yang tidak standar sehingga agak tidak beraturan ketika diekspor ke pdf.

tulisan yang tidak begitu bagus kan, hahaha

Beralih Ke Buku/Koran/Majalah Digital

Saya bukannya tidak sama sekali membeli buku fisik tetapi berusaha mengurangi membeli buku fisik. Buku fisik menguras space yang lumayan banyak, misalkan saja kamu ingin membawa 2 buku yang masing-masing tebalnya 400 halaman maka sudah pasti mengurangi space di tasmu.

Berbeda halnya dengan eBook, kamu bisa menampung puluhan buku dalam 1 tablet . Lalu, untuk eBook readernya lebih bagus iPad/tablet android atau eBook reader seperti Kindle/Kobo ?

Kalau punya budget untuk membeli keduanya ya silahkan, tetapi kalau hanya mau beli salah satu saja maka saya sarankan tablet.

Kalau beli eBook reader maka kamu harus berkomitmen device tersebut hanya untuk membaca buku karena memang tidak ada fitur lainnya dan eBook reader tertentu tidak support semua marketplace eBook.

Artinya kalau beli Kindle ya harus beli dari Amazon Kindle atau misalnya Kobo reader ya harus beli dari Kobo. Sedangkan kalau beli tablet, kamu bisa install kindle dan kobo dalam 1 device walaupun pengalaman memakai eBook reader terasa sangat berbeda dengan membaca eBook dari aplikasi penyedia eBooknya.

source : amazon.com

Harganya bagaimana? biasanya eBook lebih murah dibandingkan dengan buku fisik. Perbedaan harganya juga signifikan karena saya sering menemukan perbedaan ratusan ribu rupiah.

Menurut saya, eBook juga memudahkan kamu untuk melakukan banyak hal pada halaman seperti menerjemahkan kata. memberikan highlight, memberi bookmark, dan mengubah tampilan sesuka hati.

Sayangnya bagi kamu yang masih lebih banyak membeli buku lokal dibandingkan luar maka pilihan pembeliannya hanya dari Google Play Book atau Gramedia Digital.

Selain membaca eBook, saya dulu berlangganan majalah National Geographic atau seringkali membeli Intisari dan Info Komputer. Dan majalah/koran sekarang sudah tersedia bentuk eMagazine juga (sudah tersedia dari lama, siapa tau kamu belum ngeh)

Dengan mengganti semuanya digital, kamu bisa bayangkan berapa space yang kamu simpan. Sebagai informasi, saya pernah berlangganan National Geographic dan pada akhirnya karena space termakan banyak maka saya sumbangkan majalah-majalah tersebut ke orang-orang.

Membaca pdf Dengan Aplikasi

Sebagai mahasiswa, tentu saya diwajibkan membaca banyak sekali bahan bacaan yang berbentuk paper. Kalau saya memakai cara lama, maka saya akan mencetak semua paper agar bisa dicorat coret atau ditambahkan catatan kecil.

Well, kalian bisa melakukan ini sekarang dengan aplikasi yang ada di laptop/handphone/tab. Untuk offline, Adobe PDF adalah cara terbaik untuk mencorat coret dokumen walaupun sayangnya beberapa fitur baru bisa dipakai untuk versi berbayar.

Untuk online, kamu bisa upload dokumennya ke Google Drive dan membukanya memakai Xodo atau Lumin PDF. Kamu bisa melakukannya dari gadget apa saja mulai dari laptop, handphone, atau tablet.

Kesimpulan

Menjadi paperless mungkin secara tidak sadar kamu sudah lakukan di kantor karena kebanyakan dokumen sekarang disimpan di PC/Laptop. Tetapi untuk next level paperless, kamu bisa mengganti semua hal yang kamu dulu lakukan offline menjadi online seperti misalnya mengurangi pembelian buku/majalah dan ganti dengan eBook/eMagazine. Untuk masalah corat coret memang butuh dana untuk membeli tablet yang support pena digital. Tertarik untuk hidup paperless?

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau ebook GRATIS? yuk SUBSCRIBE!

Dapatkan ebook gratis "Cara Memulai Belajar Wordpress dan SEO" dengan subscribe situs blogstuff. Saya tidak akan mengirimkan spam tetapi hanya info-info berkualitas tentang tutorial teknologi. 

 

Terima Kasih! eBook telah dikirimkan ke email anda!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This