Surveillance 101 : Teknologi Pengenalan Wajah Dan Apa Yang Seharusnya Kita Bicarakan

by | Aug 10, 2020 | Technology For Good

Surveillance 101 : Teknologi Pengenalan Wajah Dan Apa Yang Seharusnya Kita Bicarakan

by | Aug 10, 2020 | Technology For Good

”Kak, memangnya teori konspirasi itu beneran ada?”

Itu pertanyaan adik saya yang masih SMA ketika pandemi COVID-19 sedang hangat-hangatnya di Indonesia pada bulan April. Saat itu saya belum tahu apa saja konspirasi yang beredar di masyarakat saat pandemi, banyak teori konspirasi di dunia memang benar adanya tetapi kebanyakan yang orang tahu biasanya konyol.

Salah satu konspirasi terkenal di masa pandemi ini adalah bagaimana vaksin akan digunakan untuk memonitor dan mengendalikan semua umat manusia dengan menanamkan chip ketika divaksin.

Terdengar sangat mengerikan, karena siapa sih yang mau ditanami chip lalu diawasi bahkan dikontrol oleh para elit dengan kepentingan tertentu.

Saya tidak mau terlibat lebih banyak dengan debat chip di vaksin, saya yakin para ahli sudah membantahnya dengan berbagai argumen ilmiah. Hal menarik dari fenomena konspirasi ini adalah kita, umat manusia, ternyata ingin agar privacy terjaga dan tidak mau dimanfaatkan untuk mengawasi dan mengendalikan.

Sayang hal seperti ini menjadi isu panas hanya saat pandemi, padahal pelanggaran privacy sebenarnya bukan ancaman omong kosong yang baru dihadapi umat manusia hari ini.

Teknologi Pengenalan Wajah dan Pro Kontra Yang Mengikutinya

Mari kita mulai dengan teknologi yang sedang naik daun dan sudah beberapa tahun digunakan di ponsel pintar : pengenalan wajah.

Kamu pasti tidak asing membuka ponsel pintar dengan fitur pengenalan wajah yang biasanya sudah disediakan oleh pabrikan ponsel pintar hari ini.

Atau pernahkah kamu mengupload foto di sosial media dan tiba-tiba saja disarankan untuk mentag seorang teman yang dikenali di foto tersebut?

Contoh-contoh tadi adalah fitur pengenalan wajah yang digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan pengalamanmu menggunakan produk mereka.

Secara definisi, face recognition adalah software yang mendeteksi wajah manusia dengan bantuan teknologi mutakhir seperti Artificial Intelligence (AI), Machine Learning (ML), dan Deep Learning (DL) (saya tidak akan berpanjang lebar menjelaskan ketiga hal ini, tidak menarik)

Bagaimana face recognition bekerja? silahkan lihat gambar di bawah ini :

source : Forbes

Jika bingung, mari saya sederhanakan prosesnya.

Bayangkan ketika kamu melihat sosok sedang lewat di depan mata, misalnya seorang teman baik. Mata akan menangkap visual dari wajah, lalu informasi yang ditangkap oleh mata dikirimkan ke otak . Di otak, kita akan segera memproses untuk mengambil kesimpulan apakah kita mengenali atau tidak mengenali wajah tersebut.

Tindakan berikutnya yang diperintahkan otak adalah menepuk bahu teman baikmu, bisa agak meragu lalu melihatnya kembali, atau mungkin mengabaikannya karena informasi yang dikirimkan otak mengatakan data wajah tersebut tidak ada dalam memori.

Sistem face recognition bekerja sangat mirip. Gambar muka kita akan ditangkap lalu setelahnya diubah menjadi ukuran geometri , dikalkulasikan secara matematika, dan akhirnya dibandingkan dengan basis data gambar lain dengan hasil cocok (match) atau tidak dengan data pembandingnya.

source : analyticsindiamag.com

Walaupun Canggih, Teknologi Ini Membawa Bahaya

Melatih sebuah kecerdasan buatan sama seperti melatih seorang bayi. Untuk mengenalkan nama-nama binatang, orangtua biasanya menunjukkan bagaimana bentuk binatang tersebut dan menyebutkan namanya berulang-ulang. Alhasil setelah beberapa kali latiham, saat kita menunjukkan gambar jerapah maka bayi akan mengenali bahwa itu jerapah.

Pada teknologi pengenalan wajah,hal yang sama juga kita lakukan agar mesin mengenali wajah yang ditangkap. Dibutuhkan data wajah lain yang jumlahnya sangat banyak dari orang-orang di seluruh dunia untuk melatih mesin.

Disinilah berbagai masalah mulai muncul.

Privacy

Untuk membuat face recognition semakin handal dan akurat, perusahaan memerlukan data wajah yang sangat besar. Selain itu, data-data juga bisa dikumpulkan secara real time melalui kamera CCTV misalnya.

Saya ingin kamu membayangkan sedang berjalan di mall lalu tiba-tiba orang asing mengambil foto wajahmu. Orang normal biasanya marah ketika difoto orang asing, alasannya karena kita bahkan tidak tahu untuk apa foto tersebut diambil dan akan dikirimkan kemana dengan tujuan apa.

Sayangnya, reaksi kita kebanyakan tidak begitu jika yang melakukan adalah perusahaan yang produknya biasa kita pakai sehari-hari.

Pernahkah kamu ditanya terlebih dahulu oleh perusahaan tentang kesediaan diri memberikan data wajah sebelum mereka mengambil dan membaginya ke sistem? masalahnya adalah entah kamu mengatakan ya atau tidak, mereka akan tetap mengumpulkannya.

Ini salah satu jebakan privacy, dimana kita tidak pernah menyetujui data wajah kamu disimpan dan dimanfaatkan tetapi tetap saja dikumpulkan.

Security

Data yang dalam jumlah besar dan dikumpulkan di sebuah tempat tentu menjadi incaran para peretas (hacker). Kebanyakan perusahaan menaruh data di cloud, dan sejauh ini kita tahu data yang disimpan di cloud tidak 100% aman.

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan kebocoran data yang dialami Tokopedia. Itu bukan berarti Tokopedia tidak menyimpan data penggunanya dengan aman, kadang maling akan selalu selangkah di depan yang punya rumah.

Kumpulan data wajah yang banyak ini merupakan sebuah tumpukan emas bagi para hacker. Saat data wajahnya berhasil mereka dapatkan lewat celah yang ada di cloud, kita tidak akan pernah tahu untuk apa data tersebut digunakan. Seringnya data yang bocor mereka perjualbelikan di darkweb, selanjutnya terserah si pembeli mau memanfaatkannya untuk apa. Berbeda dengan barang fisik yang kalau dicuri akan kamu tindaklanjuti, kehilangan data tidak pernah kamu rasakan langsung.

Kesalahan Deteksi Wajah

Teknologi pasti tidak mungkin 100 persen akurat sekalipun sistem face recognition dilatih dengan memberikan masukan yang sangat banyak. Repotnya kalau ada pencuri yang mirip dengan kamu, dan sistem menuduh kamu, ini akan menjadi bencana berikutnya.

Ousmane Bah, adalah salah seorang yang menjadi korban untuk kesalahan teknologi face recognition. Seseorang secara ilegal memakai identitasnya (kecuali wajahnya) dan ia dituduh mencuri aksesoris di toko Apple sebesar $1200. Apple menggunakan sistem pengenalan wajah dan menyimpulkan bahwa Bah adalah pelakunya. Kasus ini berakhir dengan tuntutan balik Bah sebesar 1 milyar dolar ke Apple.

Ide elit global yang mengatur dan memonitoring kita itu sudah pernah kejadian. Berikutnya saya akan menjelaskan contoh kasus yang pernah terjadi.

Contoh Kejadian Nyata Masalah Data Privacy

Project PRISM dan Snowden Sang Pahlawan

Surveillance atau pengawasan pada dasarnya dilakukan untuk keperluan tertentu. Paling sederhana, misalnya orangtua yang mengawasi anaknya dengan CCTV di kamar agar dengan sigap mengetahui gerak-gerik anak seperti menangis, terjaga, atau hal-hal lain.

Yang paling umum adalah pemasangan CCTV di toko untuk mengetahui jika ada suatu tindakan berbahaya, misalnya maling, yang masuk ke toko.

Contoh tadi biasa kita lihat di kehidupan sehari-hari, bagaimana kalo hal tersebut dilakukan oleh aktor besar seperti perusahaan atau bahkan negara?

Bicara negara, hal yang paling mungkin kita asosiasikan dengan pengawasan ini adalah agen rahasia. Pengawasan dilakukan untuk melakukan pencegahan semenjak dini seperti misalnya mendeteksi terorisme karena pada dasarnya keberadaan intelijen diperlukan untuk mencegah hal-hal buruk terjadi tanpa kita sadari.

Sejak September 2011, pemerintah Amerika Serikat meningkatkan kemampuan intelijen untuk mengumpulkan data dan informasi dari orang asing dan rakyatnya sendiri. Salah satu proyeknya diberi kode PRISM, sebuah alat untuk menangkap data pribadi semua orang.

Seharusnya kamu sudah mengerti salahnya dimana, belum?

Sekali lagi, yang dikumpulkan data pribadi semua orang, yang artinya entah kamu terkait atau tidak dengan terorisme atau tindak kejahatan lain maka mereka tetap mengaksesnya.

Sebuah bocoran dari kontraktor proyek ini mengatakan bahwa National Security Agency (NSA) memiliki sebuah akses langsung ke server Google, Facebook, perusahaan internet lainnya, CCTV dan bahkan saluran seluler.

Jika saya sebutkan seorang tokoh, kemungkinan kamu pernah mendengar : Edward Snowden.

Apa hubungannya Snowden dengan PRISM? Ia adalah salah satu kontraktor intelijen yang bekerja untuk NSA dan salah satu yang membocorkan adanya proyek ini kepada dunia.

Film Snowden yang terinspirasi dari kisahnya

Pada perkembangannya kasus ini sangat dinamis, sudah pasti pemerintah US sendiri menyangkal bahwa yang diakses adalah data semua orang. Beberapa perusahaan yang disebutkan dalam dokumen juga membuka suara dan rata-rata mengelak.

Proyek ini mendapatkan perhatian beberapa negara seperti European Union (EU), Canada, New Zealand, India, Australia, dan China. Silahkan baca perkembangan kasusnya di Wikipedia.

Apa tanggapan Indonesia terhadap PRISM? Saya yakin 100% data-data kita juga diakses oleh NSA. Pemerintah Indonesia tidak pernah mengumumkan tanggapan tentang PRISM ke publik, walau mungkin sebenarnya tahu dan sudah dilakukan komunikasi di belakang layar.

Social Credit System RRT

Kita semua tahu bahwa Tiongkok adalah negara komunis, walaupun contoh berikut ini bukanlah sebuah kasus pelanggaran privacy (setidaknya dari pandangan Tiongkok sendiri) tapi cara Tiongkok melakukan monitoring dan controlling bisa dibilang kebablasan.

Bagi kamu yang pernah menonton serial Netflix “Black Mirror”, mungkin cerita ini terasa sangat mirip dengan salah satu episodenya. (bagi yang belum, coba nonton deh)

Di dunia maya, orang-orang dengan pengaruh besar baik dengan citra yang baik atau buruk di internet biasa kita sebut influencer. Kita-kita warga biasa yang bersosial media biasanya juga punya tingkat kepopuleran yang bisa diukur melalui tombol like atau komentar.

Jika dikombinasikan dengan segala variabel, setiap akun sosial media kita punya tingkat popularitas masing-masing. Akun instagram pak Marsani misalnya, bisa jadi lebih populer ketimbang akun instagram pak Deni karena followers nya lebih banyak dan engagement nya tinggi.

Bagaimana kalau popularitas dunia maya juga diterapkan konsepnya ke kehidupan sehari-hari?

Itulah yang Tiongkok ingin bangun dengan menamainya social credit system. Kamu bisa tonton gambaran singkatnya lewat video di bawah ini :

Sistem tracking baik dan buruk ini sebenarnya biasa digunakan di perbankan, untuk melakukan pengecekan finansial sebelum memberikan kredit. Tetapi apa yang Tiongkok lakukan bukan hanya finansial, mereka mengecek apakah kamu melakukan hal baik atau buruk.

Menolong nenek-nenek menyeberang, kredit kamu naik…

Tidak mengantre saat belanja, maka kredit kamu turun…

Tiongkok adalah salah satu negara yang sangat agresif mengumpulkan basis data wajah, dan kamu sudah tahu kan apa hubungan monitoring menggunakan face recognition dan social credit system?

Setiap gerak-gerik warga akan dipantau negara dan setiap tindakan ada konsekuensi yang harus dibayar di kehidupan nyata. Ini seperti konsep karma, cuma baik buruk dan hukumannya ditentukan oleh negara,

Walaupun sistem ini belum dilakukan sepenuhnya di seluruh Tiongkok, di masa depan akan ada warga Tiongkok dari Shanghai tidak akan berhasil memesan tiket pesawat ke Beijing karena sistem online mendeteksi ratingnya sangat rendah.

Contoh nyata tindakan elit global sebenarnya tidak perlu kamu anggap ditutup-tutupi, Tiongkok sudah mencontohkannya.

Tenang, Kita Punya UU ITE dan Dunia Sudah Punya GDPR

Beberapa hari lalu saya membaca posting di Instagram yang kurang lebih menscreenshot beberapa halaman di website pemerintah dan dengan yakin mengatakan bahwa big data surveillance sedang terjadi di era pandemi.

Suatu hari, seseorang akan dicek datanya oleh sistem dan dilarang untuk masuk ke area tertentu karena itu adalah zona merah. Sebuah simplifikasi yang mungkin lupa penerapan hal seperti itu hanya mungkin di negara komunis.

Indonesia punya Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), yang walaupun lebih terkenal di publik sebagai senjata melawan ujaran kebencian, tetapi sebenarnya punya kekuatan yang cukup untuk melindungi data pribadi karena isi dari UU ITE mengatur bahwa data pribadi kita wajib diamankan dan diperlukan konsen dari pemilik data.

Semua data kita yang dimanfaatkan harus di anonimitas, jadi peruntukannya hanya agregat dan tidak akan membuka sama sekali detail pemiliknya.

Masih ingat kemenangan Trump yang didukung oleh Cambridge Analytica sampai Mark Zuckeberg (pemilik Facebook) dipanggil untuk memberikan keterangan?

Kamu mungkin terlewat hal ini, tetapi kasus Pemilu AS 2014 membuat berang banyak pihak. Kasus ini adalah salah satu yang menjadi dorongan General Data Protection Regulation (GDPR) disahkan. GDPR adalah undang-undang perlindungan data pribadi yang dibuat oleh European Union (EU) dan menutup segala celah yang bisa dilakukan orang-orang untuk menyalahgunakan data pribadi. Ada denda yang cukup besar jika ada organisasi atau perusahaan yang melanggar undang-undang ini.

Saya termasuk yang merasakan sendiri bagaimana GDPR ini di Belanda selain membantu melindungi data pribadi, sekaligus juga menyusahkan pembuatan aplikasi tracing di era krisis COVID-19.

Syarat pemenuhan perlindungan data yang begitu ketat sudah berarti memperlambat pengembangan sebuah aplikasi di masa krisis. Kalau Indonesia tinggal cespleng buat aplikasi, maka Belanda sampai sekarang belum juga meluncurkan aplikasi tracing COVID-19 akibat pemenang tender harus memenuhi semua tetek bengek GDPR.

Apa Yang Perlu Kita Perjuangkan?

Pertama, jika kamu merasa data pribadi itu penting maka berlakulah seperti itu. Jangan berikan data apapun sebelum kamu membaca consent sebuah layanan walaupun ini sebenarnya susah karena “privacy paradox”.

Privacy paradox adalah kebiasaan seorang user yang menganggap bahwa data pribadi mereka harus aman, tetapi apa yang dilakukan bertolak belakang dengan keinginan mengamankan data pribadi.

Berikutnya, kamu harus tahu bahwa GDPR bisa dipakai dimana-mana dan Indonesia sendiri sudah berencana untuk mengadopsi walaupun sampai sekarang rencana tersebut belum tercapai juga. Tonton video Menkominfo ini tentang adopsi GDPR :

Jika ada hal yang harus dilakukan untuk mencegah pihak-pihak yang menyalahgunakan data pribadi untuk mengawasi dan mengontrol kita, maka Bill Gates dan WHO jelas salah sasaran.

Seharusnya yang kita lakukan adalah terus memberikan perhatian pada hal ini dan juga mendesak pemerintah sesegera mungkin mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.

Kecerdasan buatan bisa mengontrol umat manusia? Robot akan menggantikan kita? Kok konten sampah bisa populer di Youtube? Seri Technology for Good adalah ulasan khusus yang memberikan pandangan bagaimana teknologi akan mempengaruhi umat manusia.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Mau ebook GRATIS? yuk SUBSCRIBE!

Dapatkan ebook gratis "Cara Memulai Belajar Wordpress dan SEO" dengan subscribe situs blogstuff. Saya tidak akan mengirimkan spam tetapi hanya info-info berkualitas tentang tutorial teknologi. 

 

Terima Kasih! eBook telah dikirimkan ke email anda!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This